We Are All Trying Here (2026)
We Are All Trying Here (Hangul: 모두가 자신의 무가치함과 싸우고 있다) merupakan serial drama psikologis slice-of-life Korea Selatan yang ditulis oleh Park Hae-young—penulis di balik mahakarya melankolis seperti My Mister dan My Liberation Notes.
Bukan berfokus pada romansa manis atau konflik yang meledak-ledak, drama ini menyelami realitas pahit tentang kesehatan mental, tekanan sosial, rasa iri, serta pergulatan batin manusia dalam mencari arti self-worth (harga diri) ketika merasa tertinggal dari orang lain.
Sinopsis Utama
Cerita berpusat di balik layar industri perfilman, mengikuti kehidupan Hwang Dong-man (Koo Kyo-hwan), seorang pria paruh baya yang sudah selama 20 tahun bermimpi menjadi sutradara film namun belum kunjung memulai debutnya.
Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rasa tidak berharganya, Dong-man mengajar kelas penulisan skenario dan mengambil kerja paruh waktu di katering.
Di tengah rasa terisolasi dan kecemburuan emosional tersebut, ia bertemu dengan Byeon Eun-ah (Go Youn-jung).
Berbeda dengan orang lain yang memandang sebelah mata atau menjauhi Dong-man, Eun-ah justru melihat ketenangan emosional di balik keputusasaan pria tersebut.
Karakter Pendukung Utama
Drama ini diperkaya oleh karakter-karakter di sekitar mereka yang sama-sama memiliki "lubang" di dalam hati mereka:
Park Gyeong-se (Oh Jung-se): Anggota The Group of Eight sekaligus sutradara top yang sudah merilis 5 film global.
Meskipun terlihat sukses di luar, ia sebenarnya belum matang secara emosional dan mengidap inferiority complex (rasa rendah diri) yang mendalam terhadap masa lalu Dong-man. Ia berada dalam tekanan hebat karena takut posisinya akan runtuh. Ko Hye-jin (Kang Mal-geum): Istri dari Gyeong-se dan CEO dari Gobak Film.
Mantan jurnalis yang muak dengan industri karena lelah menggali tragedi hidup orang lain, serta lelah menghadapi suaminya sendiri yang dikuasai rasa cemas. Hwang Jin-man (Park Hae-joon): Kakak laki-laki Dong-man, seorang penulis berbakat yang sempat memenangkan kontes puisi lalu keluar dari pekerjaannya.
Namun, karena hidup tidak berjalan sesuai rencana, ia kini menjalani hari-hari yang tidak stabil dengan bantuan alkohol.
Secara visual dan penyutradaraan, proyek arahan sutradara Cha Young-hoon (When the Camellia Blooms) ini menggunakan sinematografi yang minimalis dan redup untuk memperkuat atmosfer melankolis, menjadikannya sebuah drama kontemplatif yang sangat relatable bagi siapa saja yang pernah merasa tidak cukup baik di dunia yang menuntut segalanya untuk serbacepat.
%20cover.jpg)
Komentar
Posting Komentar